Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merajut Silaturahmi dalam Kedamaian Idul Fitri
![]() |
Merajut Silaturahmi dalam Kedamaian Idul Fitri |
Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merajut Silaturahmi dalam Kedamaian Idul Fitri
Oleh: Kifayatul Ahyar (Ketua TBM Ajibarang)اَللهُ أَكْبَرُ (×٣) اَللهُ أَكْبَرُ (×٣) اَللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ.
اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الإِخْوَانِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ .قَالَ اللهُ تَعَالىَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ : يَآ أَيُّهَا الََّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا .وَقَالَ تَعَالَى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Hari ini kita berdiri di atas bumi-Nya, dengan hati yang lapang setelah menjalani Ramadhan yang penuh ujian dan keberkahan. Kita memuji-Nya dengan segenap kesadaran bahwa hidup ini tak lebih dari perjalanan menuju-Nya, dan bahwa segala yang kita genggam pada akhirnya harus kita lepaskan.
Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, yang dengan cahaya risalahnya membimbing kita dalam gulita, memberi harapan di saat dunia terasa berat, dan mengajarkan bahwa kesabaran dalam ketaatan lebih berharga dari segala kenikmatan sesaat. Semoga kita termasuk umat yang mendapat syafa'at beliau di hari kiamat.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita merayakan Idul Fitri, hari kemenangan bagi mereka yang telah berjuang menaklukkan hawa nafsu, yang telah mendidik dirinya dalam kesabaran dan keikhlasan. Namun, kemenangan sejati bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan. Kemenangan sejati adalah ketika hati kita lebih luas dalam memaafkan, lebih ringan dalam memberi, dan lebih kuat dalam menjalin kembali silaturahmi yang pernah renggang.
Bukankah kita sering berdiri di depan pintu seseorang, ragu-ragu untuk mengetuk, sekadar untuk menyambung silaturahmi yang pernah terputus? Kadang ego menghalangi, kadang gengsi menahan. Tapi hari ini, di hari yang fitri, mari kita runtuhkan tembok itu. Mari kita buka pintu, mari kita ulurkan tangan, mari kita lembutkan hati.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali 'Imran: 103)
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu." (QS. An-Nisa: 36)
Ayat ini mengajarkan bahwa berbuat baik kepada kerabat dan sesama bukan sekadar tuntutan moral, melainkan panggilan fitrah manusia yang luhur. Silaturahmi bukan hanya sekadar jabat tangan atau kunjungan sesekali, tetapi jalinan kasih yang harus terus dirajut, meski angin zaman berembus kencang membawa perbedaan dan perselisihan.
Ia adalah ikatan batin yang memelihara harmoni, menjembatani hati yang retak, serta menumbuhkan kehangatan di tengah dunia yang semakin individualistik. Dengan menyambung silaturahmi, kita tidak sekadar menjaga hubungan personal, melainkan merawat kemanusiaan itu sendiri, sebagaimana diajarkan oleh wahyu dan diteladankan oleh para nabi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ
"Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari." (HR. Bukhari dan Muslim)
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menekankan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan dan silaturahmi tidak hanya mendatangkan keberkahan secara spiritual, tetapi juga berkaitan dengan kebaikan duniawi seperti rezeki dan umur. Dalam realitas kehidupan yang penuh liku dan persimpangan, silaturahmi menjadi jembatan yang menghubungkan hati-hati yang mungkin retak oleh kesibukan dunia. Ia bukan sekadar ajaran normatif yang dihafal dan diulang-ulang di mimbar-mimbar, tetapi sebuah laku hidup yang nyata, mengalir dalam keseharian manusia.
Betapa sering kita melihat seseorang yang murah hati dalam menjalin silaturahmi justru hidupnya dipenuhi dengan keberkahan—rezekinya mengalir, umurnya terasa panjang dengan makna, dan kebahagiaan melingkupinya dalam kesederhanaan. Ini bukan sekadar janji dari hadis, tetapi sesuatu yang dapat dirasakan oleh siapa saja yang dengan tulus mengamalkannya. Sebaliknya, mereka yang gemar memutus hubungan, mengabaikan sanak saudara, dan menutup diri dari pergaulan, perlahan-lahan merasakan kesempitan hidup, baik dalam materi maupun dalam hati.
Menyambung silaturahmi adalah seni merawat kehidupan. Ia menuntut kelapangan hati, kesabaran, dan sikap mau mengalah demi kebaikan yang lebih besar. Dalam silaturahmi, ada kehangatan yang tak bisa dibeli, ada cerita-cerita lama yang menghidupkan kenangan, ada doa yang terucap dengan penuh ketulusan. Maka, benarlah sabda Rasulullah ﷺ, bahwa siapa yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan, hendaknya ia merawat silaturahmi. Sebab, di sanalah letak keberkahan hidup—bukan hanya dalam hitungan angka, tetapi dalam kedalaman makna.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dari semua yang telah kita renungkan dalam khutbah ini, ada satu benang merah yang harus kita pegang erat: Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momen untuk kembali. Kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah manusia yang suci, dan kembali mempererat tali silaturahmi yang mungkin sempat terputus.
Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai jalan pulang—kepada Tuhan, kepada sesama, kepada diri sendiri yang lebih tenang. Kita bersihkan hati, kita jernihkan kata-kata, kita lembutkan langkah. Lebih banyak memberi, lebih banyak memeluk, lebih banyak mengingat Allah dalam setiap hela napas.
Jamaah yang berbahagia,
Saat kita melangkah keluar dari tempat ini, ingatlah bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita menjalani hari-hari setelahnya. Jika Ramadhan telah mendidik kita untuk bersabar dan bersyukur, maka Idul Fitri adalah saatnya kita mengamalkan pelajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menguatkan langkah kita di jalan-Nya. Mari kita saling mendoakan agar kita senantiasa dalam lindungan-Nya dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang dalam keadaan yang lebih baik.
Khutbah 2
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ … اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ … اَللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ للهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَاركَاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضى، وَأَشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالى حَقَّ التَّقْوى. وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أمَرَكُمْ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعَالى: إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلى النَّبِيِّ يَا أيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِه وَأصْحَابِه أجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَعَنْ كُلِّ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الحْاَجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
عَبَادَ اللَّهِ .. أنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعْمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Kifayatul Ahyar
(Ketua TBM Ajibarang)
Posting Komentar untuk "Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merajut Silaturahmi dalam Kedamaian Idul Fitri"